Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Wednesday, 25 November 2015

MEMPERTAHANKAN DAYA BELI KONSUMEN DALAM PERSAINGAN GLOBAL

Oleh : Aldo Aditya Putra

ABSTRAK
            Kualitas dalam era globalisasi sekarang ini sangat penting, Karena kualitas dalam era globalisasi telah menjadi harapan dan keinginan semua orang khususnya pelanggan. Oleh karena itu, para pelaku bisnis dan produsen harus terus berusaha mengembangkan konsepsi dan teknologi kualitas sejalan dengan trend globalisasi. Bahkan banyak perusahaan yang secara progresif mencari pola manajemen yang dianggap paling efektif untuk menyiasati kualitas dalam era globalisasi. Maka dari itu, untuk manajemen kualitas pada era globalisasi saat ini sangat penting untuk produsen agar dapat meningkatkan daya beli konsumen.
KATA KUNCI: Kualitas, Manajemen Kualitas

ABSTRAK
            Quality in the current era of globalization is very important, because the quality in the era of globalization has been the hope and desire of everyone, especially customers. Therefore, businesses and manufacturers must constantly strive to develop the concept and quality of the technology in line with the trend of globalization. In fact, many companies are progressively looking for patterns that are considered most effective management to deal with quality in the era of globalization. Therefore, for quality management in the era of globalization today is very important for manufacturers in order to increase the purchasing power of consumers.
KEYWORDS: Quality, Quality Management


PENDAHULUAN
            Kualitas mempunyai pengertian yang luas, tergantung pada sudut pandang yang mendefinisikannya. Dalam teori Deming, konsumen adalah bagian paling penting dari sistem produksi, tanpa konsumen, tidak ada alasan untuk memproduksi. Konsumen hanyalah pengguna akhir dari produk apapun atau layanan yang disediakan. Dalam Quality vocabulary, kualitas didefinisikan sebagi totalitas dari karakteristik suatu produk yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasikan atau ditetapkan. Kualitas seringkali diartikan sebagai kepuasan pelanggan (customer satisfaction) atau kesesuaian terhadap kebutuhan atau persyaratan (conformance to the requirements).

PERMASALAHAN
            Sering kita lihat dan kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita bahwa produk atau jasa yang kita beli atau kita gunakan selalu berbeda setiap waktunya. Misalnya jika kita beli suatu produk di hari senin maka akan berbeda jika kita beli di hari berikutnya bahkan tidak jarang kita temukan penurunan kualitas pada produk tersebut. Kita tahu bahwa pesaingan di pasar domestik atau pasar internasional/global . Agar perusahaan dapat berkembang dan paling tidak bisa bertahan hidup, perusahaan tersebut harus mampu menghasilkan produk barang dan jasa dengan mutu yang lebih baik, harganya lebih murah, promosi lebih efektif, penyerahan barang ke konsumen lebih cepat, dan dengan pelayanan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan para pesaingnya di tentukan oleh kualitas produk atau jasa itu sendiri.

PEMBAHASAN
            Deming berpendapat kualitas memiliki komponen jangka pendek dan jangka panjang. Hal ini penting untuk mengantisipasi kebutuhan masa depan konsumen serta orang-orang yang hadir dalam rangka untuk terus memenuhi definisi konsumen kualitas dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Deming memperkenalkan Continuous Improvement Helix atau lebih dikena dengan (Plan, Do, Study/Check, Act) :
1.         Desain Produk
2.         Buat produk, mengujinya di lini produksi dan laboratorium.
3.         Pasarkan
4.         Mengujinya dalam pelayanan ; mencari tahu apa yang user berpikir itu dan mengapa non-user belum membelinya.
            Menurut Deming, empat langkah jika diulang terus-menerus akan mempertahankan kualitas bahkan menghasilkan peningkatan kualitas dengan harga menurun. Dengan demikian, kondisi untuk kualitas seperti yang terlihat oleh konsumen terpenuhi: pengetahuan tentang apa kebutuhan konsumen pada saat ini, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan itu dan kemampuan untuk mengatisipasi kebutuhan masa depan konsumen.
            Perusahaan yang akan memenangkan persaingan dalam segmen pasar yang telah dipilih juga harus mampu mencapai tingkat mutu, bukan hanya mutu produknya, akan tetapi mutu ditinjau dari segala aspek, seperti mutu bahan mentah dan pemasok harus bagus (bahan baku yang jelek akan menghasilkan produk yang jelek pula), mutu sumber daya manusia (tenaga kerja) yang mampu bekerja secara efisien sehingga harga produk bisa lebih murah dari pada harga pesaingnya, promosi yang efektif (bermutu), sehingga mampu memikat para pembeli sehingga pada gilirannya akan meningkatkan jumlah pembeli.
            Dalam rangka mencukupkan kebutuhan pelanggan dan ketepatan waktu dengan anggaran yang hemat dan ekonomis, seorang manager proyek harus memasukkan dan mengadakan pelatihan management kualitas. Hal hal yang menyangkut kualitas yang di maksud diatas adalah :
· Produk / pelayanan / proses pelaksanaan.
· Proses management proyek itu sendiri.

            Didalam tuntutan zaman , dan dalam era persaingan bebas, kita harus banyak belajar tentang hal hal yang menyangkut proses manajemen dalam lingkungan kerja, terutama tentang pentingnya sistem dan realisasinya dalam proyek di lapangan.

KESIMPULAN
            Untuk mempertahankan kualitas suatu perusahaan atau organisasi harus mampu menjaga mutu produk, bukan hanya mutu produk tetapi mutu dari segala aspek seperti bahan baku, proses dan tenaga kerja. Ada beberapa bagian yang mana digunakan dalam management kualitas. Dalam konteks konstruksi beberapa akan di jelaskan.
1. Inspeksi
Inspeksi merupakan alat untuk mengukur kegiatan proses konstruksi untuk memeriksa apakah standard spesifikasi udah di capai.
2. Quality control
Pengendalian Mutu (Quality Control) adalah teknik dan aktivitas operasi yang digunakan agar mutu tertentu yang dikehendaki dapat dicapai. Aktivitasnya mencakup monitoring, mengeliminir problem yang diketahui, mengurangi penyimpangan/perubahan yang tidak perlu serta usaha-usaha untuk mencapai efektivitas ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
Amin Syukron. 2013. Pengantar Manajemen Industri. Graha Ilmu: Jakarta.


Monday, 15 December 2014

ANALISIS TIMBULAN DAN KOMPOSISI SAMPAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) RUMAH TANGGA DI KOTA PADANG BERDASARKAN TINGKAT PENDAPATAN

Yenni Ruslinda dan Dian Yustisia

 Lingkungan Tropis, vol. 7, no. 1, Maret 2013: 21-30

Abstrak
Sampah B3 rumah tangga merupakan sampah kegiatan rumah tangga (domestik) yang mengandung bahan dan atau bekas kemasan suatu jenis bahan berbahaya dan atau beracun sehingga harus dikelola agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Dalam perencanaan pengelolaan sampah B3 di Kota Padang, dilakukan pengukuran timbulan dan komposisi sampah B3 rumah tangga dengan sampling sampah B3 dari masing-masing sampel rumah tangga berdasarkan tingkat pendapatan High Income (HI), Medium Income (MI), dan Low Income (LI). Komposisi sampah B3 rumah tangga Kota Padang berdasarkan jenis penggunaannya terbesar adalah sebagai perawatan tubuh 51% dan pembersih 39%, berdasarkan sumber terbesar berasal dari kamar mandi 45% dan kamar tidur 26,7%, serta berdasarkan karakteristik yang terbesar bersifat racun, karsinogenik, korosif dan mudah terbakar sebesar 34%.

Kata kunci: karakteristik, komposisi, sampah B3 rumah tangga, dan timbulan.

Pendahuluan

Sampah (buangan padat) merupakan segala sesuatu yang tidak diinginkan keberadaannya oleh manusia pada saat dihasilkan. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi manusia terhadap barang/material yang digunakan sehari-hari. Secara umum, jenis sampah dapat dibagi dua yaitu sampah organik dan anorganik, dimana diantara sampah tersebut ada sebagian yang tergolong sampah B3 (Bahan- bahan Berbahaya dan Beracun). Karakteristik dari limbah B3 secara umum adalah; mudah meledak, mudah terbakar, beracun/ toksik, infeksius, reaktif, korosif, karsinogenik, iritan, mutagenik dan teratogenik. Untuk sampah B3 yang berasal dari rumah tangga umumnya memiliki karakteristik; korosif, mudah meledak, mudah terbakar, racun, karsinogen (Russell Phifer, 2010). Jika pengelolaannya tidak dilaksanakan secara benar, sampah tersebut akan menimbulkan berbagai masalah bagi lingkungan bahkan lebih membahayakan dari sampah biasa seperti menyebar lewat tanah, air dan udara, serta rantai makanan, menyusupi tubuh manusia dan hewan melalui kulit, pernapasan dan pencernaan, mengancam kulit, ginjal, mata, saluran pernapasan, paru-paru, otak, sistem syaraf, dan hati. Kota Padang sebagi ibu kota Propinsi Sumatera Barat merupakan kota besar dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebesar 819.740 jiwa. Pengelolaan sampah kotanya ditangani oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Analisis Timbulan dan Komposisi Sampah (DKP). Dalam sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini masih menganut sistem konvensional, dimana sampah diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Dingin. Dari semua sumber yang ada baik domestik dan non domestik belum dilakukan pemisahan sampah di sumber. Begitu juga halnya dengan sampah yang tergolong sampah B3, belum ada pemisahan di sumber dan penanganan khusus untuk sampah ini.

Metode
Penelitian analisis timbulan dan komposisi sampah B3 rumah tangga di Kota Padang berdasarkan tingkat pendapatan mencakup studi literatur, pengumpulan data primer dan sekunder serta pengolahan dan analisis data. Pengumpulan data primer berupa penyebaran kuisioner, pengambilan sampel sampah B3 dari masing- masing rumah tangga dan pengukuran timbulan dan komposisi sampah B3 rumah tangga di laboratorium. Data sekunder yang dikumpulkan berupa gambaran umum Kota Padang dan jumlah sarana perumahan yang ada di kota Padang yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang serta data hasil penelitian timbulan dan komposisi sampah domestik sebelumnya. Dari hasil pengolahan data sekunder diperoleh jumlah sampel minimum dan lokasi terpilih untuk pengambilan sampah B3 rumah tangga. Sampel sampah B3 yang diambil dari masing-masing rumah tangga di Kota Padang berjumlah 60 sampel. Perhitungan ini didasarkan pada jumlah sampel minimum yang dihitung secara statistik. Untuk membuktikan bahwa sampel yang diambil sebanyak 60 sampel tersebut telah representatif, maka dibuktikan dengan evaluasi hasil survei. yaitu besarnya Sampling Ratio (SR) 0,00029 dan Percent Sampling Error (PSE) sebesar 4,78% sehingga didapatkan tingkat keandalan data yang diperoleh sebesar 95,22%. Pengukuran komposisi dilakukan dengan cara pemilahan sampah berdasarkan jenis penggunaannya dalam rumah tangga, sumber atau asalnya dalam rumah tangga dan karakteristik sampah B3 rumah tangga, sesuai dengan ketentuan Departemen Pekerjaan Umum (2005). Persen komposisi sampah adalah berat masing-masing komponen sampah dibagi dengan berat total sampah keseluruhan. Data penelitian berupa timbulan dan komposisi sampah B3 rumah tangga diolah dan dianalisis secara statistik.

Hasil Dan Pembahasan

Dari hasil penelitian didapatkan timbulan sampah B3 rumah tangga Kota Padang dalam satuan volume adalah 2,62 liter/rumah/2 minggu dan dalam satuan berat adalah 0,35 kg/rumah/2 minggu. Timbulan sampah B3 rumah tangga dalam satuan volume untuk masyarakat berpendapatan tinggi, menengah, dan rendah berturut-turut adalah 0,046 l/o/h, 0,039 l/o/h, dan 0,037 l/o/h. Timbulan sampah B3 rumah tangga golongan high income > medium income > low income. Ini membuktikan bahwa pendapatan (income) masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya timbulan sampah B3 rumah tangga. Untuk aspek hukum perlu dibuatkan Peraturan Daerah tentang pengelolaan sampah khusus B3. Selain itu aspek partisipasi masyarakat dalam mendukung pengelolaan sampah B3 sangat diperlukan dengan upaya antara lain melakukan sosialisasi, penyuluhan dan pendampingan kepada masysarakat dalam pengelolaan sampah B3. Keempat aspek tersebut ditunjang oleh aspek teknis operasional yang dilakukan meliputi: 
}Pemilahan/pewadahan, sampah B3 dari rumah tangga dikumpulkan dalam suatu wadah khusus atau dipisah dengan sampah rumah tangga lain.
}Pengumpulan, petugas mengumpulkan sampah dari wadah khusus ke tempat penampungan sementara.
}Pengangkutan, sampah B3 rumah tangga diangkut oleh kendaraan khusus.
}Penyimpanan, sampah B3 yang diangkut tersebut disimpan di tempat penyimpanan khusus dan masing–masing wadah diberi label.
}Pengolahan, sampah B3 di tempat penyimpanan diolah sesuai dengan ketentuan pengolahan sampah B3.
}Monitoring, dalam pengelolaan sampah B3 rumah tangga perlu dilakukan monitoring untuk mengukur kinerja sistem yang diuji cobakan. 

Kesimpulan
Timbulan sampah B3 rumah tangga kota Padang rata-rata sebesar 0,041 liter/orang/hari dalam satuan volume atau 0,004 kg/orang/hari dalam satuan berat. Timbulan sampah B3 rumah tangga ini dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat semakin besar sampah B3 rumah tangga yang dihasilkan (HI 0,046 l/o/h, MI 0,040 l/o/h, dan LI 0,037 l/o/h). Persentase perbandingan timbulan sampah B3 rumah tangga terhadap timbulan sampah domestik dalam satuan volume yaitu sebesar 1,88% atau dalam satuan berat sebesar 1,09%. Berdasarkan perhitungan proyeksi, diperkirakan timbulan sampah B3 rumah tangga Kota Padang sampai tahun 2025 adalah sebesar 0,049 liter/orang/hari dengan kuantitas 68,082 m3/hari atau 11,143 ton/hari. Komposisi sampah B3 berdasarkan jenis penggunaannya dalam rumah tangga terbesar adalah sebagai perawatan tubuh 51% dan pembersih 39%. Komposisi berdasarkan sumbernya dalam rumah tangga terbesar berasal dari kamar mandi 45% dan kamar tidur 26,7%, sedangkan komposisi menurut karakteristik sampah B3 yang terbesar adalah bersifat racun; karsinogen; korosif; dan mudah terbakar sebesar 34% dan bersifat racun sebesar 12%. 

Saran
Dikarenakan data tentang timbulan dan komposisi sampah B3 rumah tangga Kota Padang telah diperoleh dari penelitian ini, maka disarankan penelitian dilanjutkan dengan analisis terhadap sampah B3 dari sumber lain seperti industri, institusi dan komersial. Dari data-data yang ada dapat dilakukan kajian detail tentang rencana pengelolaan khusus untuk sampah B3 rumah tangga mulai dari pewadahan di sumber sampai ke pemrosesan akhir, sehingga dampak yang ditimbulkan dari keberadaan sampah B3 dapat diminimasi. 

Daftar Pusaka
}Astuti, Widi,  “Peran Sampah B3 Rumah Tangga (Household Hazardous Waste) dalam Peningkatan Global Warming”, Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Fakultas TeknikUniversitas Wahid Hasyim Semarang 1 ( 2010): I.31-I.36
}Badan Pusat Statistik. Padang Dalam Angka 2006. Padang, 2007.
}Departemen Pekerjaan Umum. Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan Sampah Perkotaan. SNI 19-3962-1994, 1994.
}Departemen Pekerjaan Umum. Materi Sosialisasi Direktorat Pekerjaan Umum. 2005.
}Departemen Pekerjaan Umum. Pengelolaan Sampah di Pemukiman. Revisi SNI 03-3242-1994, 2005.
}Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Profil Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Padang 2007. Padang, 2007.
}Harry J. Elston, “When household hazardous waste is too hazardous: A case study” Journal Chemical Health and Safety 17 (2010): 12-15. 

Tuesday, 9 December 2014

Limbah Industri

Dalam kegiatan industri selalu bertentangan dengan limbahnya itu sendiri. Limbah industri adalah sisa buangan yang dihasilkan dari proses produksi pada suatu industri. Perlu penanganan yang serius dalam menangani limbah industri yang besar, tidak dipungkiri lagi bawah limbah industri bersifat racun dan berbahaya. Seperti yang kita tahu bahwa limbah industri selalu dibuang ke aliran sungai, ini menyebabkan pencemaran lingkungan bahkan pangan.

Dampak limbah Industri pada lingkungan tentu kita dapat lihat pada aliran sungai yang tercemar. Jika dilihat ukuran dan materinya, dampak limbah industri lebih berbahaya dibanding limbah domestik. Akan tetapi jika limbah domestik menjadi massal karena jumlahnya juga bisa berbahaya. Limbah industri lebih berbahaya dikarenakan secara kuantitas memang besar dan terus menerus dihasilkan dengan kandungan zat yang sama.

Dampak limbah industri pada pangan adalah masalah yang perlu penanganan yang serius karena berkaitan langsung dengan sesuatu yang kita makan. Beberapa contoh limbah industri pangan yang mencemari lingkungan adalah pabrik tahu dan tempe. Limbah industri yang dihasilkan oleh kegiatan industri pangan dapat berupa sejenis garam, mineral, karbohidrat, lemak dan protein. Jika tidak ditangani dengan baik maka akan mencemarkan air dan udara.

Limbah industri dalam skala apapun adalah ancaman bagi keberlangsungan makhluk hidup dan ekosistem dimana makhluk itu tinggal. Sehingga penanganan limbah industri tidak boleh dianggap sepele jika tidak menghendaki kerugian yang lebih besar terjadi. Kesadaran tentang bahaya limbah industri ini harus dimiliki oleh siapapun, baik pemilik modal yang mendirikan industri, birokrasi yang memberikan ijin dan juga masyarakat di manapun mereka berada. Hal ini untuk menumbuhkan sinergi yang baik untuk mencari solusi bagaimana industri tidak terhambat pertumbuhannya, namun juga tidak mencemari lingkungan. 

Rokok Mentol Lebih Berbahaya

 Dengan rasa yang berbeda, rokok mentol dianggap lebih ringan dibandingkan dengan rokok biasa. Namun sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa rokok mentol ternyata lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok biasa. Penelitian menunjukkan bahwa perokok mentol lebih berkemungkinan mengalami masalah paru-paru.

Perokok mentol juga lebih berisiko dirawat di rumah sakit akibat penyakit paru-paru yang lebih serius dibandingkan dengan perokok biasa. Salah satu penyebabnya adalah kesulitan bernapas dan menumpuknya lendir di saluran pencernaan, seperti dilansir olehDaily Mail (05/11).

Hasil ini didapatkan peneliti setelah mengamati dan menemukan bahwa perokok mentol yang masih muda di Kanada merokok dua kali lebih banyak dibandingkan dengan perokok biasa. Jika perokok biasa merokok rata-rata 26 batang setiap minggu, perokok mentol merokok hingga 43 batang per minggu.

Dalam penelitian ini peneliti mengamati 3.758 perokok mentol dan 1.941 perokok biasa berusia 45 sampai 80 tahun. perokok mentol biasanya berasal dari kalangan anak muda. Pada pengamatan awal, perokok mentol memiliki risiko penyakit pernapasan lebih kecil dan berisiko lebih kecil mengalami batuk kronis atau penumpukan lendir pada saluran pernapasan.

Meski begitu, ternyata selama penelitian 18 bulan perokok mentol memiliki kesehatan paru-paru yang lebih rendah dibandingkan perokok biasa. Mereka kesulitan berjalan selama enam menit dan lebih mungkin mengalami napas pendek dan kesulitan bernapas dibandingkan dengan perokok biasa.

Bahkan setelah peneliti menghitung faktor lain seperti usia dan riwayat penyakit, perokok mentol masih memiliki risiko 29 persen lebih tinggi untuk mengalami penyakit paru-paru dibandingkan dengan perokok non-mentol. Jika Anda adalah salah satu perokok mentol, sebaiknya waspadalah.


http://www.merdeka.com/sehat/rokok-mentol-lebih-berbahaya-dari-rokok-biasa.html

Wednesday, 17 September 2014

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Kita tahu bahwa pasokan listrik di Indonesia tidak merata dan kebutuhannya naik setiap tahunnya.10-15 tahun mendatang Indonesia memerlukan pasokan listrik sekitar 7000-15.000 mw,karena itu Indonesia butuh pembangkit tenaga listrik dari sumber-sumber lainnya. Indonesia mempunyai pembangkit listrik dari berbagai sumber energy,misalnya batu bara, air, diesel dan lain-lain. Tetapi PLT yang kita punya sekarang belum cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Dalam permasalahan nasional ini,mungkin PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) adalah solusinya. Bagian utama dari suatu PLTN adalah yang dinamakan teras (inti) reaktor nuklir. Di dalam teras reaktor ini akan terjadi reaksi inti. Reaksi inti tersebut adalah pecahnya inti atom (uranium atau plutonium) menjadi beberapa inti baru, akibat tertabraknya inti uranium oleh neutron. Bersamaan dengan peristiwa ini timbullah panas yang sangat besar dan beberapa neutron baru. Bila neutron baru ini baru ini bertemu dengan inti uranium lagi, maka terjadilah reaksi pembelahan berikutnya. Dengan demikian akan terjadilah reaksi berantai. Dari setiap pembelahan inti ini akan dihasilkan energi panas yang luar biasa. Panas inilah yang dipakai untuk memanaskan air menjadi uap, dan uap air bertekanan tinggi ini dipakai untuk menjalankan turbin pembangkit listrik. Bahan bakar yang digunakan dalam PLTN ini adalah Uranium. Dan cadangan uranium di Indonesia sekitar 57 ton. Bayangkan saja 1kg Uranium dapat menghasilkan sekitar  50.000kwh sedangkan 1kg batubara hanya dapat menghasilkan 3kwh,ini perbandingan yang cukup jauh.
PLTN digolongkan dengan investasi dengan modal yang tinggi dan biaya tahunan yang rendah. Ini dapat menghemat pengeluaran negara kita. Keuntungan lainnya yaitu ramah lingkungan atau anti polusi. PLTN akan mengurangi pembakaran ratusan juta ton sumber daya fosil, yang berarti juga akan mengurangi pembebasan CO2 ke atmosfer yang menjadi penyebab pemanasan global atmosfer bumi secara bertahap. Dan PLTN tidak menghasilkan gas-gas beracun yang menimbulkan efek rumah kaca.
Di Indonesia PLTN sudah mulai berjalan walaupun secara lambat. Telah dilakukan studi tapak, Semenanjung Muria di Jawa Tengah dipilih sebagai PLTN pertama di Indonesia. Patahan di sekitar lokasi ini menghasilkan 0,2 g atau seperlima gravitasi bumi. Pada umumnya reactor di desain untuk padam otomatis pada gempa berukuran 0,3 g.
Tetapi ada beberapa hambatan yang perlu di perhatikan dalam pembangunan PLTN. Pertama, dimanapun PLTN dibangun pasti akan terjadi kecelakaan. Kedua, pembangunan biaya PLTN cukup besar, dan bila terjadi kecelakaan biaya pemulihannya besar,bahkan lebih besar dari pembangunan PLTN itu sendiri. Salah satu sebab mengapa PLTN ditakutkan adalah jika terjadi kebocoran akan timbul pemekatan radioaktif pada makanan.  Misalnya, jika konsentrasi zat radioaktif dalam air adalah 1 ppm, maka di dalam plankton, 15.000 ppm dalam ikan yang memakannya, dan 40.000 ppm dalam bebek yang memakan ikan tersebut. 

Sumber:
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ling1112/pltn.html
kpip-pltn.blogspot.com/p/kelebihan-pltn.html?m=1
http://blog-triks.blogspot.com/2010/11/energi-nuklir-kelebihan-dan-kelemahan.html?m=1